Khutbah Idul Adha 1447 H di Auckland: Kaprodi MHES UMS Tekankan Filosofi Kurban sebagai Pengembalian Hak Kepemilikan kepada Allah SWT

Auckland, New Zealand — Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H yang diselenggarakan oleh HUMIA (Himpunan Ummat Muslim Indonesia di Auckland) di Hall Agricultural Auckland Council, New Zealand, pada 10 Dzulhijjah 1447 H waktu setempat. Momentum keagamaan tersebut semakin bermakna dengan hadirnya Ketua Program Studi Magister Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surakarta (MHES UMS) sebagai khatib Idul Adha dalam rangka pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat internasional. Dalam khutbahnya, beliau menekankan bahwa hikmah terbesar dari ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan proses spiritual untuk mengembalikan seluruh rasa memiliki dan dimiliki hanya kepada Allah SWT. Menurutnya, manusia pada hakikatnya sering terjebak pada ilusi kepemilikan terhadap harta, keluarga, jabatan, bahkan identitas sosial yang dimilikinya, padahal seluruhnya hanyalah titipan dari Allah SWT.

Beliau menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS memberikan teladan agung tentang bagaimana seorang hamba harus rela melepaskan rasa kepemilikan demi ketaatan total kepada Allah. Ketika diperintahkan meninggalkan Ismail dan Siti Hajar di lembah tandus, bahkan ketika diperintahkan menyembelih putranya sendiri, Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas seluruh keterikatan duniawi. “Makna kurban adalah mengembalikan seluruh rasa memiliki dan dimiliki kepada Allah SWT. Bahwa anak bukan milik kita, harta bukan milik kita, jabatan bukan milik kita, bahkan diri kita sendiri sejatinya adalah milik Allah,” tegas beliau dalam khutbahnya.

Khutbah tersebut juga mengaitkan nilai-nilai pengorbanan Nabi Ibrahim dengan realitas diaspora Muslim Indonesia di New Zealand yang hidup sebagai minoritas Muslim di tengah masyarakat multikultural dan sekuler. Menurut beliau, tantangan terbesar diaspora Muslim bukan hanya persoalan ekonomi atau adaptasi budaya, tetapi bagaimana mempertahankan identitas tauhid di tengah arus globalisasi dan individualisme modern. Beliau menyampaikan bahwa kehidupan diaspora sering kali menuntut umat Islam untuk bernegosiasi dengan lingkungan sosial yang berbeda nilai. Dalam situasi tersebut, spirit kurban mengajarkan bahwa seorang Muslim harus siap mengorbankan kenyamanan, ego, dan ambisi duniawi demi menjaga aqidah, identitas keislaman, serta pendidikan iman bagi keluarga dan generasi penerus.

“Kurban bukan hanya tentang darah dan daging, tetapi tentang keberanian menjaga identitas keimanan di negeri rantau. Sebagaimana Ibrahim berhijrah demi tauhid, diaspora Muslim Indonesia di New Zealand juga sedang menjalani hijrah peradaban untuk mempertahankan Islam sebagai jalan hidup,” ujarnya. Pelaksanaan Idul Adha yang diselenggarakan HUMIA tersebut dihadiri oleh masyarakat Muslim Indonesia dari berbagai latar belakang profesi dan daerah di New Zealand. Momentum tersebut menjadi ruang silaturahim sekaligus penguatan spiritual bagi diaspora Indonesia agar tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan identitas keislaman di tengah kehidupan modern.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen akademik dan dakwah internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam memperluas kontribusi keilmuan dan pengabdian masyarakat lintas negara, khususnya bagi komunitas diaspora Muslim Indonesia. Dengan mengangkat nilai-nilai ketauhidan, pengorbanan, dan penguatan identitas Muslim diaspora, khutbah Idul Adha 1447 H di Auckland tersebut diharapkan menjadi refleksi bersama bahwa hakikat kehidupan sejatinya adalah perjalanan kembali menuju Allah SWT dengan hati yang ikhlas dan penuh kepasrahan.

https://www.instagram.com/p/DY5Yo0XE2vq/?